Nominasi Walikota Risma Dipertanyakan

6 April 2012

 

“Kalau ada keberhasilan bisa dikatakan masih bagian dari kerja walikota sebelumnya. Risma masih sekadar meneruskan saja, belum ada yang baru dalam prestasinya,”

Kelayakan Walikota Surabaya Tri Rismaharini sebagai kandidat walikota terbaik se dunia agaknya masih jauh dari harapan. Sejumlah legislator menilai kerja Risma sampai dua tahun pemerintahannya masih merupakan program walikota sebelumnya.

“Kalau ada keberhasilan bisa dikatakan masih bagian dari kerja walikota sebelumnya. Risma masih sekadar meneruskan saja, belum ada yang baru dalam prestasinya,” komentar anggota Komisi C DPRD Surabaya, Reni Astuti, Selasa (4/4).

Menurut Reni, masih banyak kerja yang belum selesai dan berbagai hal yang belum ditangani dengan optimal oleh Risma dalam dua tahun kepemimpinannya. “Banyak yang masih parsial dilakukan, belum sistematik dan komprehensif atas suatu program di Surabaya,” terang Reni yang juga lulusan ITS ini.

Namun Reni memberikan apresiasi bagi walikota perempuan tersebut saat masuk nominasi walikota terbaik se-dunia. Menurutnya meski masih jauh dari harapan, namun masuknya Risma dalam nominasi ini bisa sebagai pendorong agar kerja walikota menjadi lebih baik.

“Asumsikan nominasi ini adalah ekspektasi kerja walikota dari masyarakat, tapi kerja saat ini masih jauh. Saya harap nominasi ini bisa mendorong walikota untuk makin bekerja mendekati ekspektasi yang ada,’ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Ninuk Rahmawaty, anggota Komisi D. Ia mengatakan, kerja walikota saat ini baru sekadar meneruskan pejabat terdahulu. Menurutnya belum ada gebrakan yang merupakan program langsung dari Walikota Tri Rismaharini.

“Baru meneruskan kerja Bambang DH. Belum ada gebrakan yang positif. Apalagi ia dahulu adalah bagian dari birokrasi pemkot. Artinya kalau ada prestasi saat ini harus dibedakan, ini prestasi Risma sebagai walikota atau kerja saat menjadi Kepala Bappeko waktu periode pak Bambang,” terangnya.

Sementara itu anggota Komisi A, Alfan Khusaeri malah mengatakan belum satupun kerja walikota yang bisa dilihat. Kerja walikota Surabaya saat ini masih kerja asal-asalan mengingat tidak adanya acuan bagi program-program Pemkot Surabaya.

“Sampai saat ini tidak ada yang menonjol, bahkan saya nilai kerja Pemkot masih asal-asalan karena tidak ada acuan karena tidak punya Rencana Pembangunan Jangka Menengah,” tegasnya.

Selain itu, lanjut Alfan, kondisi kerja di birokrasi sangat bermasalah. Menurutnya walikota tidak bisa memimpin kerja jajaran birokrasi di bawahnya. “Banyak penyelewengan yang ditemukan oleh masyarakat. Merupakan kebalikan dari prestasi dan janji yang digembar-gemborkan pemkot,’ terang Alfan.

Alfan menyebut banyaknya jalan dan proyek box culvert yang belum selesai, masih banyaknya Puskesmas yang menarik biaya dari masyarakat, serta masih lambannya pelayanan administrasi publik sebagai bukti adanya penyelewengan tersebut.

Alfan juga menilai walikota saat ini masih bekerja untuk kepentingannya sendiri dan bukan bekerja untuk menjadi nahkoda Pemkot Surabaya. Menurutnya kerja bagus yang banyak disebut sebagai prestasi Tri Rismaharini adalah bentuk promosi semata.

“Risma itu kerja sendiri, tapi dia tidak bisa mengintegrasikannya pada jajaran di bawahnya. Ingat ia adalah walikota dengan gerbong birokrasi di belakangnya,” kata alumnus ITS angkatan 1997 ini.

Anggota Dewan yang lain, Agus Sudarsono, memberikan komentar normatif, menurutnya harus diakui ada nilai plus dan minus dalam kerja Walikota Tri Rismaharini selama ini. Namun Agus mengingatkan bahwa kerja Risma masih bagian dari meneruskan kerja walikota terdahulu. “Jadi nilai plus dan minusnya harus ditarik kembali pada kerja walikota terdahulu,” terang anggota dewan penasehat FKPPI Surabaya ini. (Harian BHIRAWA 4/4/2012) [mfu]

 

Kirim Komentar


Spam Protection by WP-SpamFree