Arti Sebuah Pin

7 October 2009 oleh FPKS | 238 klik 

Di gedung dewan, terdapat beberapa macam profesi. Pertama tentu ada anggota dewan, lalu PNS sekretariat dewan, lalu para office boy, dan juga staf fraksi. Ada pula driver para anggota dewan, dan tentu saja para jurnalis media. Selain itu juga kerap hadir para konstituen dan kader partai serta masyarakat. Tak lupa marketing officer berbagai produk yang memasarkan barangnya. Berbagai profesi ini setiap harinya berlalu lalang di dalam gedung dewan.

Pada masa-masa awal bekerja, satu sama lain belum saling mengenal, terutama para anggota dewan. Para wakil rakyat ini juga berasal dari beragam latar belakang. Ada yang kaya, setengah kaya, dan tidak kaya. Ada yang datang dengan mobil eropa, mobil jepang, ada pula yang naik sepeda motor. Ada yang berbusana kelas atas, ada pula yang berbusana seperti rakyat kebanyakan. Dan menurut seorang kawan, anggota dewan juga macam-macam wajahnya. Ada yang bertampang pejabat, konglomerat, ada pula yang bertampang orang kebanyakan.

Nah, yang membedakan anggota dewan dengan yang tidak, biasanya lewat pin yang ada di dadanya. Hanya 50 orang anggota dewan yang memakai pin DPRD berwarna emas itu. Suatu ketika seorang anggota dewan berhajat ke toilet. Baru hendak masuk toilet pria, tiba-tiba dari toilet wanita keluar seorang anggota dewan perempuan yang sedang mengomel karena toiletnya tidak bersih. Tanpa ba bi bu, omelan itu langsung ditujukan kepada anggota dewan pria tadi. Karuan saja ia mengernyitkan dahi. Tak berapa lama kemudian, sang wanita sadar kalau sepertinya yang diomelinya tadi salah satu anggota dewan juga yang baru dikenalnya kemarin. “Oalah pak-pak, tak kira sampeyan itu office boy. Lha ndak pake pin sih. Sorry ya Pak”. Selidik punya selidik, ternyata anggota dewan pria tadi termasuk yang berkategori seperti rakyat kebanyakan (busananya) dan kebetulan lupa mengenakan pinnya.

Kali yang lain, bahkan salah seorang pimpinan dewan yang menghadiri jamuan makan pemerintahan, diarahkan ke meja para driver, bukan ke meja para pejabat. Usut punya usut, yang bersangkutan tidak memakai pin, dan wajahnya, termasuk kategori rakyat kebanyakan. hehehe.

Comments