Super Mewah-Super Boros

12 November 2009 oleh FPKS | 65 klik 

ssc
SURABAYA – Prediksi bakal molornya pembangunan proyek Surabaya Sport Center (SSC) di kawasan Pakal, Surabaya Barat masih hangat dibicarakan, kini muncul kabar tak sedap lagi bagi warga terkait fasilitas olahraga itu. Kabar tak sedap itu menyusul Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) yang mengajukan anggaran pada rancangan APBD 2010 yang super besar, super mewah, dan super boros.

Anggaran dana yang digunakan untuk pesta peresmiannya sebesar Rp 12,1 miliar, kemudian anggaran untuk biaya pemeliharaan stadion seluas 100 hektar selama satu tahun sebesar Rp 3 miliar. Total anggaran yang diajukan Dispora sebesar Rp 15,1 miliar.

Rencananya, anggaran pembukaan yang cukup bombastis itu digunakan untuk menggelar pertandingan olahraga internasional, pesta kembang api, upacara, konsumsi, pengadaan topi, pengadaan alat olahraga, dan biaya untuk mendatangkan masyarakat selama peresmian berlangsung. “Anggaran super mewah, super mewah, dan super boros,” kata anggota badan anggaran (Banggar) DPRD Kota Surabaya, Fatkur Rohman, Rabu (4/11).

Kabar rencana peresmian Gelora Bung Tomo pada 2010 itu mengagetkan kalangan dewan. Pasalnya, peresmian itu memakan anggaran Rp 12,1 miliar. “Biaya pembukaan gedung olahraga saja kok super waah. Ini kan buang-buang uang rakyat,” kata politisi asal PKS itu.

Selain itu, tambahnya, pengajuan anggaran sebesar Rp 12,1 miliar tidak tertampung dalam penyusunan RAPBD 2010 dan pada detail Rencana Kerja Anggaran (RKA) belum ada. Tapi di akhir pembahasan di Komisi D, anggaran prestisius itu dititipkan secara misterius. Apalagi kode rekening kegiatannya masih belum ada. “Ini sesuatu yang aneh tapi nyata, tiba-tiba muncul belakangan,” ungkap Fatkur.

Beberapa anggota beberapa Banggar DPRD Kota Surabaya, termasuk anggota dari FPKS tidak akan meloloskan kegiatan yang terkait dengan megaproyek Surabaya Sport Center ini. “Sense of crisis dari pemkot bisa tenggelam gara-gara ini,” ujarnya.

Sementara Baktiono, ketua Komisi D DPRDSurabaya mengatakan, salah satu poin rincian anggaran pembukaan yang akan dikoreksi adalah anggaran untuk pembiayaan pesta kembang api senilai Rp 250 juta. Anggaran sebesar itu sangat besar. “Masak anggaran bakar kertas saja mencapai Rp 250 juta,” ujarnya.

Dispora sendiri, kata Baktiono, dalam pengajuan RAPBD 2010 mendatang telah mendapat anggaran sebesar Rp 14.574.288.534. Di dalamnya sudah termasuk biaya pemeliharaan tiga sarana olahraga, Gelora 10 Nopember, Lapangan TOR, dan lapangan Hoki. Jika ditambahkan dengan anggaran SSC, berarti Dispora mengajukan anggaran sekitar Rp 29 miliar.

Wakil ketua DPRD Surabaya, Ahmad Suyanto juga meminta anggaran dipangkas karena tidak sesuai dengan jargon pembangunan kota Surabaya yang mengedepankan pengentasan kemiskinan. “Ya, harus realistis lah,” katanya.

Sudah Dingatkan

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Pemkot Ir Tri Risma Harini mengatakan, dana yang diajukan Dispora dinilai memang terlalu besar. Pengajuan perencanaan anggaran sebesar itu juga dinilai kurang realistis.
Pihak Bappeko, katanya, sudah mengingatkan agar Dispora jangan mengajukan anggaran yang tidak sepantasnya diajukan. Namun, pengajuan anggaran yang relatif besar itu tetap diajukan.

Sementara Sigit Sugiharsono, Kepala Dispora Surabaya, mengatakan, pengajuan tambahan anggaran sebesar Rp 12 miliar masih akan dikaji lagi sesuai yang telah diinstruksikan dewan melalui badan anggaran (banggar). “Kami akan mengkaji kembali. Satu dua hari lagi akan kami ajukan ke dewan lagi,” kata Sigit saat dikonfirmasi, terpisah.

Terkait permintaan dewan memangkas anggaran pesta kembang api, dana topi, alat olahraga dan beberapa poin lain, Sigit siap memangkas sesuai apa yang disetujui dewan karena untuk pelaksanannya nanti akan dilakukan lelang.
Soal EO akan ditentukan berdasarkan hasil lelang. Sigit berharap dengan anggaran sebesar itu acara peresmian stadion gelora Bung Tomo (SGBT) bisa terlaksana semeriah mungkin. Alasannya SGBT adalah stadion terbesar di Jatim dan menjadi kebanggaan warga Surabaya.

Munculnya anggaran yang super besar itu menjadi gunjingan di karyawan pemkot di bergai dinas. Meski anggaran itu untuk kepentingan pemkot dan masyarakat, namun jika acara hanya peresemian dan menelan biaya Rp 12,1 dinilai sangatlah naïf.

Salah seorang pegawai pemkot yang enggan disebut namanya mengatakan, di satu sisi pemkot masih ingin mengentas kemiskinan dan meningkatkan derajat kesehatan warganya. Tapi, kenapa di sisi lain masih berusah colong-colongan anggaran.

“Saya yang juga pegawai pemkot miris ndelok anggaran segede itu hanya untuk pesta semalam.Apakah nggak ada cara lain selain pesta besar-besaran. Saya kira pasti ada,” ujarnya.pur

sumber ; surabayapost, 5 November 2009

Comments