PKS Pilih Wait and See
12 November 2009 oleh FPKS | 730 klik

SURABAYA PAGI – Fraksi PKS memilih wait and see menanggapi gerakan mosi tidak percaya kepada Ketua DPRD Surabaya yang digulirkan tiga fraksi. Ketua FPKS Fatkur Rohman menyatakan masih menunggu rapat fraksi untuk memutuskan sikapnya. Namun terlepas apakah nanti akan mendukung atau menolak gerakan ini, Fatkur melihat hal ini karena adanya kebuntuan komunikasi antara ketua dewan dan anggota. Bahkan antara ketua dewan dan pimpinan dewan juga kerap miskomunikasi.
Kebuntuan komunikasi ini di antaranya dalam menyikapi tata tertib (tatib). Fatkur mendesak Ketua Dewan terbuka menjelaskan apa yang terjai. Paling tidak ke seluruh ketua fraksi. ‘’Seperti surat Gubernur terkait tatib, saya minta ketua secara elegan memfasilitasi ini ke anggota. Harus tegaslah kalau memang harus ditetapkan lagi apa salahnya,’’ kata Fatkur.
Jika memang masih multitafsir, Fatkur mendesak Wisnu secara legowo mau berkonsultasi lagi ke Depdagri atau gubernur dengan mengajak seluruh pimpinan dewan dan ketua fraksi. ‘Jangan seperti kemarin, antara pimpinan dewan saja berpendapat lain setelah konsultasi ke Mendagri. Jadi simpang siur ini harus diakhiri,” tukasnya.
Sementara itu, pendukung gerakan mosi tidak percaya terhadap Ketua DPRD Surabaya Wisnu Wardhana bertambah. Hafid Suaidi, anggota fraksi Apkindo dengan tegas mendukung gerakan tersebut.
Politisi PAN ini meminta Wisnu menghormati dan mengikuti anjuran dari gubernur terkait tatib dengan segera melakukan perubahan terhadap tatib yang sudah ada.
Hafid meminta supaya revisi tatib itu dilakukan secara keseluruhan. Bukan dilakukan dengan mengubah salah satu item yang dianggap kurang, melainkan dilakukan perombakan secara total sesuai dengan peraturan pemerintah. “Saya melihat pimpinan (Wisnu-red) itu masih kurang faham,” ujar Hafid.
Menurut Hafid, penafsiran yang selama ini dipegang ketua dewan hanya menafsirkan hal yang sudah jelas. Misalnya, persoalan tatib. Dalam surat Mendagri tertanggal 24 September lalu sudah jelas kalau pengesahan tatib itu disahkan oleh pimpinan definitif bukan sementara. Persoalan itu kemudian di tafsirkan lagi, akhirnya dengan penafsiran itu menjadi salah.
“Memang dalam aturan hukum, satu kata itu bisa ditafsirkan banyak pengertian. Sehingga persoalan yang sudah jelas tidak perlu ditafsirkan, akhirnya menjadi bias,” tegas Hafid.
Terpisah, Ketua Badan Kehormatan (BK) Agus Santoso mengatakan aksi Masduki Toha dkk ini memperkeruh suasana yang ada di dewan. “Yang sudah kondusif sekarang mulai lagi panas lagi dengan statemen mereka. Ya, mungkin ini hanya aksi mereka bertiga saja. Saya sangat pesimis aksi ini akan berhasil. Itu kan hanya gerakan orang sakit hati saja,” kata orang dekat Wisnu ini.
Semestinya, lanjut Agus, anggota dewan itu mengadakan pertemuan dengan ketua dewan sehingga permasalahan yang ada di dewan ini menjadi jelas, bukan tambah memperkeruh susanba. Agus memastikan, fraksinya tidak akan terpengaruh dengan statemen Masduki dkk. Permintaan mereka mengganti Wisnu dengan kader Demokrat lain juga tidak akan dipenuhi. “Dia kader terbaik di partai Demokrat. Yang mumpuni hanya Wisnu,” katanya.n edo
sumber : Surabaya Pagi, 11 November 2009



Comments