FPKS Tolak Skema BOT Pembangunan Pasar Turi
28 December 2009 oleh FPKS | 171 klik

Jelang pengumuman akhir lelang atas pembangunan pasar turi, kalangan dewan masih menyoal tentang skema pembangunan. Kini giliran FPKS yang menolak skema build operate transfer (BOT) yang akan dipakai dalam pembangunan pasar grosir terbesar di Indonesia timur itu.
Melalui perwakilan FPKS di komisi C, Reni Astuti, Ketidak setujuan atas skema BOT murni didasarkan atas perhitungan kepentingan warga Surabaya. Apalagi pasar turi juga merupakan penyumbang pendapatan asli daerah (PAD) yang cukup besar. ” Kami menolak kenapa pemkot memilih skem itu. Apalagi tanpa diserta penyampaian data yang lengkap kepada dewan, mengapa memilih BOT” ujar Reni ketika ditemui di gedung dewan, Senin, (28/12).
FPKS menilai, harus ada penjelasan yang cukup logis, kalau memakai BOT berapa PAD yang diterima pemkot. ”Meski tidak memakai dana APBD di pembangunannnya, semua rencana pembangunan kan mestinya dibicarakan ke kalangan legislatif” papar perempuan berljilbab itu.
Senada dengan hal itu Wakil Ketua Fraksi PKS , Tri Setijo juga meminta pemkot memperhatikan betul penolakan dewan ini. ”Memang betul, pasar ini harus segera dibangun, tapi publik juga perlu tahu ikon kebanggaan warga Surabaya ini kenapa kok dibangun dengan skema BOT? Ini pasti ada apa-apa” kata Tri
Walaupun demikian, polemik ini juga jangan sampai merugikan kalangan pedagang yang sudah lama merugi sejak kebarakaran pasar grosir itu beberapa tahun lalu. ” FPKS juga mengusulkan kenapa pasar turi tidak dijadikan manajemen sendiri semacam perusahaan daerah atau BUMD, sehingga pembangunannya bisa pakai APBD dan semua keuntungannya kembali ke APBD”. Ujar Tri Setijo yang juga wakil ketua komisi B.
Alasannya, pasar ini pasti untung, dan kedepan keuntungannya meningkat terus, karena itu PAD Surabaya akan terdongkrak. ”Membangun SSC saja pemkot ngotot, masak membangun pasar yang begitu besar potensi keuntungannya tidak ada penjelasan yang memadai” pinta Tri Setijo.



Comments