Punya Modal Awal karena Pemilih Wanita Lebih Banyak
Politisi, akademisi, dan aktivis perempuan sepakat bahwa bakal calon wali kota (cawali) perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan cawali laki-laki. Kesimpualn itu terangkum dalam diskusi terbuka bertajuk Menakar Peluang Perempuan dalam Pilwali Surabaya kemarin (30/1). Diskusi di gedung Graha Wijaya lantai 1 Universitas 17 Agustus 1945 tersebut menghadirkan tiga pembicara kunci. Mereka adalah dua perempuan yang bakal maju dalam pilwali. Yakni, Yulyani dan Emy. Mereka didampingi sosiolog Unair Hotman Siahaan.
Cawali yang diusung PKS Yulyani menegaskan bahwa tidak ada bedanya antara cawali perempuan dan cawali lelaki. Yulyani menambahkan, perempuan memiliki semua syarat yang dibutuhkan untuk bisa menjadi pemimpin. Namun, politikus perempuan harus melakukan beberapa hal. Di antaranya, mengambil peluang yang ada. Perempuan, kata Yulyani, harus bisa dan pengen mengambil peluang yang terbentang. Saat ini, demokrasi sudah cukup ramah terhadap perempuan. Salah satu bukti konkretnya adalah kuota 30 persen kursi di parlemen wajib dimiliki oleh perempuan.
“Syarat lainnya adalah perempuan harus fight. Soal-soal seperti izin tidak ikut rapat gara-gara anak sakit atau tidak bisa datang ke pertemuan gara-gara pembantu pulang kampung adalah hal yang sangat tidak populis bagi politisi,” tegasnya.
Yulyani lantas mencontohkan pencalonannya dalam pileg untuk memperebutkan kursi di DPRD Jatim lalu. Dalam ajang itu, Yulyani mengaku tidak niat. Dia hanya memiliki modal Rp 850 ribu. Uang tersebut digunakan untuk mencetak 30 ribu kartu nama. Namun, meski dengan kampanye yang asal-asalan itu, Yulyani mencetak rekor yang luar biasa. Dia bisa mengumpulkan 8 ribu suara. “Kalau saya sungguh-sungguh, saya yakin hasilnya akan baik,” tegasnya. (nur/oni)
sumber : jawapos, 31 Janauari 2010, diolah
Kirim Komentar