Calon Perempuan, Elemen Menentukan, Yulyani Optimistis Mencuri Simpati Masyarakat
18 February 2010 oleh FPKS | 94 klik

Surabaya, Kompas – Pengajar ilmu politik dari Universitas Airlangga, Airlangga Pribadi, menilai keberadaan sejumlah perempuan bakal calon akan membuat Pemilihan Kepala Daerah Kota Surabaya berjalan lebih semarak. Selain baru pertama kali terjadi, Yulyani, Tri Rismaharini, dan Emy Susanti juga merupakan perempuan bakal calon yang memiliki kapasitas untuk maju sebagai calon.
Airlangga yakin ketiganya berpotensi menjadi elemen menentukan dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Surabaya tahun ini. “Ketiganya relatif berhasil dalam menekuni bidang masing- masing. Hal ini akan menarik perhatian masyarakat mengingat mereka juga figur yang sangat berkapasitas,” tuturnya, Selasa (16/2) di Surabaya.
Dia menambahkan, peluang perempuan bakal calon cukup besar karena persepsi patriarkat masyarakat semakin berkurang. “Meskipun Jatim kental dengan nuansa santri dan agamis, hal itu tidak menjadi persoalan berarti karena birokrasi sekarang membutuhkan sosok yang menyejukkan dan sensitif terhadap berbagai isu,” kata Airlangga.
Bakal calon wali kota Surabaya dari Partai Keadilan Sejahtera, Yulyani, menyatakan tetap percaya diri di tengah kepungan para pesaing yang mayoritas laki-laki. Mantan anggota DPRD Kota Surabaya periode 2004-2009 itu optimistis mampu mencuri simpati masyarakat dalam pilkada tahun ini.
“Masyarakat tampaknya sudah jenuh dengan calon kepala daerah laki-laki. Buktinya, Khofifah Indar Parawansa mampu memaksakan Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Jatim berlangsung hingga tiga putaran,” tutur perempuan kelahiran Bengkulu, 6 Juli 1968 ini.
Kesuksesan Khofifah menginspirasi Yulyani dalam bersaing memperebutkan tampuk kepala daerah Surabaya periode 2010-2015. Namun, dia menyadari butuh kerja keras guna mencapai hal itu. Yulyani menilai totalitas dibutuhkan seorang perempuan untuk eksis di dunia politik yang selama ini lebih akrab dengan laki-laki.
“Saya juga harus mampu menjalani rapat hingga dini hari, seperti yang lazim dilakukan kaum laki-laki menjelang pilkada. Hal itu bisa disiasati melalui pembagian tugas di rumah dengan suami,” ucap ibu empat putra ini.
Kendati dalam hal tertentu harus menjalani kodrat sebagai perempuan, Yulyani menganggap hal itu sebagai tantangan. Dia juga menyatakan siap bertarung habis-habisan guna menjawab keraguan publik. “Peran serta saya dalam pilkada bukan untuk mendominasi atau menyaingi laki-laki. Namun, saya ingin masyarakat tahu bahwa perempuan memiliki kesempatan sama,” ujar perempuan yang saat ini berkiprah di Kamar Dagang dan Industri Jatim ini.
Yulyani percaya kolaborasi calon laki-laki dan perempuan dalam pilkada nanti memiliki nilai jual cukup tinggi. Masyarakat saat ini dianggap semakin dewasa dengan serangkaian pemilihan umum yang dijalani dalam beberapa tahun terakhir. “Namun, saya tidak mau muluk- muluk dalam pilkada nanti. Saya masih bisa berbuat lebih baik dalam pilkada lima tahun atau 10 tahun mendatang,” tuturnya. (RIZ)
sumber : kompas, 17 Februari 2010



Comments