PKS Segera Tinggalkan PD
9 March 2010 oleh FPKS | 90 klik

SURABAYA(SI) – Peluang Partai Keadilan Sejahtera (PKS) –yang juga sangat ingin mengusung calon– untuk berkoalisi dengan Partai Demokrat (PD) tertutup.
PD sudah menjalin mitra koalisi dengan Partai Golkar, di mana Adies Kadir lah yang dipasangkan dengan Arief Afandi. Minat PKS yang sebelumnya ngotot bersanding dengan PD pun mulai kendur.Mereka pun mengalihkan perhatian pada partai lain,khususnya yang mau memberi jatah calon wakil wali kota (cawawali).
Keputusan ini diambil mengingat hampir seluruh konstituen PKS ingin agar kader mereka maju dalam Pemilihan Wali Kota (Pilwali) 2 Juni nanti,sekalipun hanya calon L2 (cawawali).Langkah apapun akan mereka tempuh untuk memenuhi ambisi tersebut. Harapan PKS ini tidak berlebihan. Pasalnya, pada Pemilu Legislatif 2009 lalu, PKS adalah pemenang ketiga di Surabaya.
Dengan perhitungan dukungan parlemen, amat logis jika mereka mendambakan jatah L2. “Pilihan ini sudah diputuskan partai. Agar mereka tidak kecewa, pilihan ini akan kami ambil,” tegas Ketua Tim Otonomi Musyarokah Daerah (Tomda) DPD PKS Kota Surabaya Ibnu Sobir, kemarin. Partai mana yang akan dipilih? Ibnu belum bisa memutuskan.
Sampai saat ini DPP PKS belum memberikan rekomendasi soal rencana itu. Baik untuk menentukan kandidat yang diusung maupun pilihan mitra koalisi. Peluang paling besar tampaknya ada pada poros tengah yang dimotori Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Hingga kini, koalisi tersebut baru punya cawali (L1) saja,yaitu Bagyo Fandi Sutadi, dan tengah mencari L2-nya.
Alasan lainnya,PKS maupun PKB dan Gerindra sudah pernah menjalin komunikasi, kendati belum ada kata sepakat. Dengan PDIP? Partai berlambang kepala banteng moncong putih ini memang belum menentukan pilihan.Namun,munculnya incumbent Bambang DH yang diplot sebagai cawawali menutup peluang itu.
Apalagi saat ini mereka tengah memburu calon L1 yang tengah diperebutkan Saleh Ismail Mukadar dan Tri Risma Harini. Kandidat calon PKS Yulyani mengaku pasrah. Pasalnya, kata dia, semua iru wewenang partai. Dengan siapa pun dia digandengkan, Yulyani akan menerima, termasuk jika gagal dicalonkan.
”Pilihan paling buruk memang saya tidak jadi maju.Misalnya ketika semua peluang koalisi tertutup. Walau begitu, saya tidak merasa rugi atau jadi korban,sekalipun selama ini saya sudah melakukan sosialisasi dan memasang gambar. Sebab tujuan semua itu adalah untuk beribadan dan silaturahmi,”tuturnya diplomatis.
sumber : seputar-indonesia, 9 – 03 – 2010, diolah



Comments